Jumat, 22 Juni 2018

TIGA DEWA KEBERUNTUNGAN 三神運氣 (Besar)

Fu Lu Shou  福禄壽  mengacu pada konsep Keberuntungan (Fu/ 福) , Kesejahteraan (Lu/ 禄), dan Panjang Umur (Shou/ 壽). Istilah ini umum digunakan dalam budaya Cina untuk menunjukkan tiga unsur kehidupan yang baik. 


Patung ketiga dewa ini dapat ditemukan hampir di setiap rumah Cina dan banyak toko-toko milik masyarakat Cina di altar kecil dengan segelas air, sebuah persembahan menguntungkan seperti jeruk , terutama selama Tahun Baru Cina. Secara tradisional,susunan mereka adalah dari  kanan ke kiri (sehingga Fu 福  ada di sebelah kanan, Lu 禄 di tengah, dan Shou 壽 di paling kiri).
 

Fu kung kung (福) mengacu pada planet Jupiter . Dalam astrologi tradisional, planet Jupiter diyakini sebagai bintang keberuntungan.


Menurut legenda Tao, Dewa Fu 福 dikaitkan dengan Yang Cheng 阳城, seorang gubernur  Daozhou 道州. Yang Cheng mempertaruhkan hidupnya dengan menulis peringatan kepada kaisar untuk menyelamatkan bangsa dari penderitaan.


Setelah kematiannya, orang-orang membangun sebuah kuil untuk mengenang dia, dan dari waktu ke waktu ia dianggap sebagai personifikasi dari keberuntungan 福.


Dewa Fu 福  biasanya digambarkan dalam pakaian sarjana, memegang sebuah gulungan kitab, yang kadang-kadang tertulis karakter 福如東海/Fu ru dong hai (Berkelimpahan bagai laut timur) . atau dapat juga dilihat sedang menggendong anak, atau dikelilingi oleh anak-anak.


Lu Kung Kung ( 禄 ) adalah ζ Ursa Majoris , atau, dalam astronomi tradisional Cina, bintang keenam di cluster Wenchang
 

Dewa Lu 禄 diyakini sebagai Zhang Xian, yang hidup pada Dinasti Shu.
 

Kata lu 禄 secara khusus mengacu pada gaji seorang pejabat pemerintah. Dengan demikian, dewa Lu 禄 adalah dewa kemakmuran, pangkat dan pengaruh.


hiasan topi aslinya hilang dan diganti dengan kayu tapi tidak mengurangi keindahannya


Dewa Lu 禄 juga disembah secara terpisah dari dua lainnya sebagai dewa yang menolong seseorang dalam Ujian kerajaan, keberhasilan dalam birokrasi kerajaan. Dewa Lu 禄 biasanya digambarkan memakai pakaian kebesaran pejabat kekaisaran China
dewa Lu 禄 memegang gulungan kitab bertuliskan 恭喜發財/gong xi fa cai (bersuka cita menerima kemakmuran) atau memegang ruyi
 

Shou kung kung (壽) adalah α Carinae ( Canopus ), bintang Kutub Selatan dalam astronomi Cina, dan diyakini mengendalikan masa hidup dari manusia.


Menurut legenda, ia dikandung ibunya selama sepuluh tahun, dan sudah tua saat dilahirkan.

+

Dia cirikan dengan dahinya yang menonjol / jenong dan membawa buah persik / thao sebagai sebagai simbol keabadian . 


terdapat sedikit cacat pada tangan yang memegang tongkat, hal ini mungkin karena tongkat tersebut memang bisa dilepas jadi kurang hati hati saat memasangkan atau melepasnya
tapi tidak begitu terlihat


Dewa Panjang Umur biasanya ditampilkan tersenyum dan ramah, dan dia kadang-kadang dapat membawa labu diisi dengan Ramuan Kehidupan.
Dewa panjang umur memegang buah persik dan pada tongkatnya terikat gulungan kitab bertuliskan 壽比南山/ shou bi nan shan (panjang umur laksana gunung selatan)
 

Patung tiga dewa keberuntungan dengan tinggi 60 cm, buatan era jaman awal republik Tiongkok
ada beberapa kekurangan karena usia tapi tidak mengurangi keindahannya.
cukup jarang didapatkan patung dengan dimensi yang cukup besar, mengingat transportasi di masa itu

Tiga dewa keberuntungan merupakan salah satu intisari filsafat kehidupan masyarakat Cina,
dimana dalam kehidupan ini manusia akan berbahagia jika memiliki 福 (keberuntungan), 禄 (Pangkat/Harga diri) dan 壽 (Panjang usia) 
suatu makna yang indah dalam sebuah karya seni

Kamis, 21 Juni 2018

Liyen (papan syair)


papan syair Cina biasanya memiliki arti arti filsafat yang mendalam yang merupakan ajaran bagi generasi penerus 


di Indonesia keberadaannya saat ini sudah sangat langka, disamping karena masyarakat keturunan Cina Indonesia kebanyakan tidak bisa berbahasa dan menulis aksara Cina karena selama orde baru segala sesuatu yang berhubungan dengan budaya Cina dilarang, 


tetapi juga kemampuan untuk menulis syair syair indah sangat jarang dimiliki oleh generasi sekarang.


terbuat dari kayu jati dengan ukuran 30 x 173 dengan ketebalan 1.5 cm


keindahan dan keluwesan dari tiap huruf huruf yang terpahat ini menunjukan citarasa seni yang tinggi


dihiasi dengan warna emas / prada (sebagian sudah pudar karena usia)
menjadikannya semakin memancarkan keindahan dan keanggunannya


kesetian dan kerelaan dalam menjalani masa masa sulit kehidupan
merupakan jalan yang akan membawa kita kepada kebijaksanaan selamanya

kira kira makna dari sepasang syair ini



SEPATU LOTUS


Banyak versi dari catatan sejarah mengenai hal ini. Cerita yang paling terkenal adalah kisah tentang seorang penari cantik di zaman dinasti Shang. Kakinya sangat kecil dan runcing. Gerakannya pun elegan dan indah. Kaisar saat itu memuji bahwa kakinya seperti bunga teratai (lotus). Sejak saat itu, banyak wanita mulai mencari cara agar kakinya mirip sang penari.


Banyak sekali puisi-puisi yang menyebut tentang lotus feet (kaki teratai) ini. Sehingga semakin mendorong banyak wanita untuk mengubah kakinya. Karena wanita ini kebanyakan sudah dewasa, akhirnya anak-anak merekalah yang menjadi ‘korban’ uji coba. Kebiasaan yang dilakukan wanita bangsawan ini berlangsung terus menerus selama ratusan tahun. Bahkan hingga hampir 100% wanita bangsawan di zaman dahulu yang melakukan praktek ini pada kakinya.


Di China zaman dahulu, para wanita bangsawan sangat bangga memiliki kaki seperti ini. Sepatu untuk kaki ini juga memiliki hiasan yang indah-indah seperti sutra, benang emas, mutiara, dan lain-lain. Kaum lelaki pun sangat suka memilih wanita yang memiliki lotus feet.


Lotus Feet dibuat dengan cara cukup unik. Biasanya dilakukan pada bayi yang baru lahir atau anak-anak di bawah 10 tahun. Proses pembuatannya adalah kaki direndam dalam ramuan khusus yang berupa rempah-rempah, obat-obatan, dan darah hewan. Kemudian kuku dipotong dan dibentuk agar tidak terjadi infeksi. Setelah itu jari-jari dibentuk dengan cara dibengkokkan dan dipatahkan!


 inilah resiko untuk tampil cantik di masa lalu. Setelah jari-jari dipatahkan, kemudian dibungkus dengan perban khusus yang sudah direndam ramuan-ramuan tertentu. Perban akan dibuka pada waktu tertentu untuk melihat kondisi kaki, menjaga infeksi, dll. Kadang-kadang harus dipatahkan lagi agar bentuknya ‘sempurna’. Proses ini pun berlangsung bertahun-tahun.


Pada zaman dinasti Qing, kaisarnya yang bijaksana yang bernama Kang Xi sempat melarang lotus feet yang sudah berlangsung ratusan tahun ini. Tetapi berhubung ia adalah kaisar dari ‘suku’ lain, peringatan ini tidak begitu diindahkan oleh wanita-wanita suku Han (suku mayoritas).


Di abad 18, terjadi pemberontakan yang dilakukan suku Hakka (salah satu suku di China). Suku ini tidak memiliki kebiasaan lotus feet. Gerakan pemberontakan ini juga menyebarkan nilai-nilai kebebasan manusia dan pencerahan, sehingga banyak orang yang tersadar akan buruknya trend ini.
Setelah pemberontakan Hakka selesai ditumpas, banyak misionaris barat yang masuk ke China.


Karena semakin banyak orang yang mulai sadar, akhirnya timbul lah gerakan Anti Lotus Feet yang menyebar ke seluruh China. Tak lama kemudian, pemerintah mengeluarkan keputusan untuk melarang praktek ini di tahun 1912. Berakhirlah trend cantik seram ini.

Di zaman modern, masih ada beberapa wanita tua di China yang masih memiliki kaki ini. Hal ini terjadi karena mereka sempat menjalani proses ini sebelum pelarangan terjadi.


Sepasang " Sepatu Lotus " yang legendaris dalam kondisi masih terawat belum pernah digunakan. pada salah satu sepatu terdapat sambungan kain yang biasa ditambahkan pada sepatu ini untuk menyesuaikan dengan besar dan bentuk kaki nya ( karena kaki lotus tidak ada yang mempunyai bentuk atau ukuran yang sama)
kemungkinan sepatu ini sedang dalam proses untuk digunakan, tetapi belum sempat digunakan.
sepatu lotus di Indonesia termasuk amat langka, hal ini dikarenakan rata rata orang Cina yang datang ke Nusantara adalah kaum pria dan rakyat jelata. sedangkan hanya para bangsawan dan orang orang terpandang yang memiliki kaki lotus.

memilikinya seakan menggenggam sekelumit kisah perjalanan kecantikan dan penderitaan di masa lalu

Kamis, 31 Mei 2018

DJOEN'S KOFFIE








Sebuah cangkir reklame era kolonial Belanda

Djoen'S koffie
eens geprobeerd altijd begeerd
( cobalah maka akan selalu didambakan )

DJOEN & CO DJOCJA 
TELEFOON No 876

kami mencoba mencari referensi mengenai Djoen's ini, sejauh ini hanya mendapatkan referensi tentang toko roti DJOEN di jalan malioboro yang juga sudah beroperasi sejak jaman Belanda, tapi kami tidak tahu apakah ada hubungannya atau tidak

bagaimanapun juga cangkir reklame tua ini merupakan salah satu saksi geliat perekonomian nusantara pada masa penjajahan

terdapat chip kecil dan ngerambut pada tutup (gbr 2,3)
selebihnya dalam keadaan utuh
masih dalam batas toleransi mengingat barang ini merupakan barang terpakai dan sudah melewati masa masa sulit bangsa ini

sayang untuk dilewatkan


SOLD


Sang penjala




Patung tua menggambarkan keriangan seorang penjala ikan yang mendapatkan hasilnya.


kita seringkali menjumpai patung kakek pemancing atau kakek penjala ini baik di rumah orang orang keturunan Cina atau di kelenteng kelenteng



patung ini mau mengajarkan kita untuk mensyukuri setiap berkat yang kita terima


seorang kakek tua yang seharian menjala ikan tampak begitu gembira meskipun hanya mendapatkan seekor ikan saja
tak terlihat raut wajah yang lelah atau kecewa dengan apa yang didapatnya hari itu


ikan 魚 (Yú) dalam bahasa cina mempunyai persamaan pengucapan dengan kelimpahan 餘 (yú)


hal ini mau mengajarkan kepada kita


.perapa pun berkat yang kita terima bahkan jika hanya seekor ikan 魚 (Yú)
jika kita syukuri dengan sungguh sungguh, maka itu akan menjadi suatu kelimpahan berkah 餘 (yú)


Dengan tinggi 21 cm
Dalam kondisi utuh, hanya porcelen bagian mata ada yang hilang
(dapat diperbaiki)


terbuat dari kayu (jenisnya tidak tahu)
tapi patung ini pada masanya diinport langsung dari China
dibuat dengan detail yang indah dan hidup
sebuah karya yang indah dan sarat dengan filosofi kehidupan



Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...