Sabtu, 06 Oktober 2018

POTEHI 布袋戯


Xue Rengui 薛仁貴 lahir pada tahun 614, di Desa Xiu, Longmen, Jiangzhou County (setingkat kelurahan atau kecamatan) yang sekarang menjadi daerah Hejin di propinsi Shanxi. Saat itu adalah masa pemerintahan Kaisar Yang dari Sui, tetapi masa mudanya tidak tercatat sejarah, selain fakta bahwa istrinya bermarga Liu (柳).


Konon dia miskin dan bekerja sebagai petani. Pada masa itu kaisar kedua Dinasti Tang yaitu Kaisar Taizong bersiap memulai ekspedisi perang melawan Goguryeo pada tahun 644, Xue tengah merencanakan untuk mengubur kembali para leluhurnya, ketika itu Nyonya Liu berkata kepadanya:

"Engkau memiliki kemampuan lebih tinggi dari orang kebanyakan, dan engkau harus tahu kapan menggunakannya. Kini, Putra Langit siap menyerang Liaodong dan ia mengumpulkan petarung-petarung tangguh. Saat seperti ini tidak sering terjadi. Bukankah engkau ingin meraih keberhasilan untuk menunjukkan dirimu sendiri? Begitu engkau menerima segala macam kehormatan besar, masih belum terlambat untuk mengubur kembali para leluhurmu."


Dengan demikian, Xue pergi untuk menemui jenderal Zhang Shigui (張士貴) dan bergabung dengan angkatan perangnya secara sukarela. 
namanya mulai dikenal. Ketika Kaisar Taizong sudah siap menyerang kota Goguryeo yang bernama Ansi (安市, sekarang dikenal sebagai Anshan, Liaoning) pada tahun 645 dan dihadang pasukan pembantu dalam jumlah besar yang dikirimkan oleh Dae Mangniji (wali raja) Goguryeo, Yeon Gaesomun, yang dipimpin para jenderal Go Yeonsu (高延壽) dan Go Hyejin (高惠真), Kaisar Taizong memerintahkan para perwiranya untuk menghalau pasukan Goguryeo. Xue, percaya bahwa dirinya sangat kuat dan ingin menunjukkan ketangguhannya, memakai baju pelindung berwarna putih dan mempersenjatai dirinya dengan sebuah tombak cagak dan dua busur. Ketika dia menyerang ke garis depan pertempuran, banyak prajurit Goguryeo yang tewas di tangannya. Emperor Taizong melihat dia dari kejauhan dan menanyakan kepada para pengiringnya, "Siapa pria yang memakai baju perang putih itu?" dan diberitahu bahwa itu adalah Xue. Kaisar Taizong memanggil Xue untuk menghadap lalu menghadiahinya emas dan sutra serta memberinya pangkat jenderal. Tak lama, pada tahun itu juga, Kaisar Taizong menarik mundur pasukannya, dia berkata pada Xue:

Semua panglimaku sudah dimakan usia, dan aku sedang mencari jenderal-jenderal baru untuk dipercayakan masalah militer. Aku tidak bisa menemukan orang yang melebihi engkau. Dibandingkan menaklukkan Liaodong, aku lebih senang karena mendapatkan engkau.

Kaisar Taizong mengangkat Xue menjadi salah satu jenderal kepala pasukan pengawal raja.


Kisah hidup Xue Rengui didramatisasikan dalam sejumlah karya fiksi. Yang paling terkenal adalah lakon Xue Rengui Pulang Dengan Kejayaan (薛仁貴衣錦歸鄉), oleh penulis lakon dari Dinasti Yuan bernama Zhang Guobin (張國賓) dan sebuah novel tanpa nama pengarang dari Dinasti Qing, Xue Rengui Menyerang Ke Timur (薛仁貴征東).


Masa jabatan Xue Rengui sebagai Jenderal Wilayah Protektorat Andong setelah jatuhnya Goguryeo telah didramatisasikan dalam sebuah serial televisi populer Korea berjudul Dae JoYoung, dan menggambarkan Xue Rengui sebagai seorang jenderal Tang yang terus menerus diganggu oleh pemberontakan Liga Dongmyeongchun; sisa-sisa dari gerakan perlawanan bawah tanah Goguryeo melawan Tang. Serial televisi ini juga mengisahkan Xue Rengui pergi dari Chang'an dengan hanya ditemani sahabat sekaligus pengawalnya Hongpei menuju Yingzhou yang di kuasai Khitan untuk menemui muridnya Li Jinzhong, Khan suku Khitan, untuk memperingatkan dia mengenai keinginan jenderal Li Wen yang ingin menghancurkan kaum Khitan pada tahun 695; namun, ini jelas merupakan sebuah tindakan simbolik dari pembuat acara ini karena Jenderal Xue Rengui wafat pada tahun 683, untuk menunjukkan sifat baik dan bersahabat Jenderal Xue Rengui dan rasa tidak sukanya terhadap urusan politik.


Dia juga muncul sebagai pahlawan dalam kisah rakyat Tiongkok di mana dia adalah ayah dari jenderal fiktif Xue Dingshan dan mertua dari putri Turki, Fan Lihua. Kisah Xue Dingshan dan istrinya Fan Lihua seringkali dijadikan lakon dalam opera Tiongkok. Ada sebuah film drama berjudul Xue Dingshan San Qi Fan Lihua tentang kedua tokoh ini.


Karena ekspedisi perangnya ke Korea melawan Goguryo dan Silla, Xue disebut sebagai "Jenderal Penakluk Timur" oleh orang-orang Tang. Ini hal yang ironis, karena anak fiktif Xue disebut sebagai "Jenderal Penakluk Barat" oleh orang Tang karena kampanye fiktifnya melawan orang Turki, tetapi, ekspedisi perang melawan Turki seharusnya juga merupakan jasa sang ayah. Dalam dongeng tersebut, Xue Rengui dikenal memiliki nafsu makan yang besar sehingga dia dianggap kerasukan "dewa lapar". Legenda Xue Dingshan dan Fan Lihua bertempat antara Kekaisaran Tang dan kerajaan Turki fiktif bernama Liang Barat, ironisnya ada sebuah kerajaan Liang Barat yang sebenarnya pada masa Enambelas Kerajaan yang dianggap sebagai leluhur dari orang-orang Tang.


Di Indonesia, Xue Rengui lebih populer dengan pelafalan Hokkian, yaitu Si Jin Kui (EYD).

Tahun 1952, dengan memakai teks terjemahan Oey Kim Tiang, Otto Swastika menggambarkan kisah kepahlawanan Xue Rengui (Hokkian: Sie Djin Koei, Sie Djin Kwie atau Si Jin Kui) untuk mingguan Star Weekly. Penerbit Keng Po menerbitkan kumpulan kisah ini dalam dua seri yaitu Sie Djin Koei Tjeng Tang dan Sie Djin Koei Tjeng See. Cerita dari komik ini sangat panjang mulai dari Sie Djin Koei dilahirkan sampai dengan wafatnya, masih disambung lagi dengan cerita keturunannya. Semua nama tokoh memakai pelafalan Hokkian. Misalnya, Yeon Gaesomun berubah menjadi Khai Souw Boen dan Xue Dingshan menjadi Sie Teng San.

Kisah Xue Rengui sering dikisahkan dalam balutan budaya Jawa dengan nama Joko Sudiro.

Fiksi Sie Jin Kwie dalam bahasa Indonesia (Melayu Rendah) dimulai dengan Wa Kang Tjap Peh Lo Hoan Ong terbitan Kho Tjeng Bie pada tahun 1912. Disusul judul-judul fiksi tentang Kaisar Tang Taizong. Beberapa judul terbit beberapa kali, sejak 1912, sampai sekarang. Misalnya, Lo Tong Tjeng Souw Pak, tulisan Kwee Khay Kee (Monsieur Kekasih) tahun 1953. Juga Sie Djin Koei Tjeng Tang (Soat Tong Houw Toan) dan Sie Djin Koei Tjeng See, lalu Hong Kiauw - Lie Tan, oleh penulis yang sama. Cerita fiksi ini dilanjutkan dengan Sih Kong yang terbit dalam bentuk komik.

Selain itu pada tahun 1993 muncul kembali Sie Jin Kwie Berperang Ke Korea tulisan Markus Aceng Setiawan yang dilanjutkannya dengan menerbitkan Sie Jin Kwie Berperang Ke Barat pada tahun 1998.


sepasang boneka potehi sie ren gui dan istri ini dibuat dengan detail yang sangat indah, jauh berbeda dengan boneka potehi pada umumnya.
kondisi utuh cantik dan amat langka keberadaannya
layak untuk menjadi koleksi kebanggaan anda


Rabu, 03 Oktober 2018

Sang penjala




Patung tua menggambarkan keriangan seorang penjala ikan yang mendapatkan hasilnya.


kita seringkali menjumpai patung kakek pemancing atau kakek penjala ini baik di rumah orang orang keturunan Cina atau di kelenteng kelenteng



patung ini mau mengajarkan kita untuk mensyukuri setiap berkat yang kita terima


seorang kakek tua yang seharian menjala ikan tampak begitu gembira meskipun hanya mendapatkan seekor ikan saja
tak terlihat raut wajah yang lelah atau kecewa dengan apa yang didapatnya hari itu


ikan 魚 (Yú) dalam bahasa cina mempunyai persamaan pengucapan dengan kelimpahan 餘 (yú)


hal ini mau mengajarkan kepada kita


.perapa pun berkat yang kita terima bahkan jika hanya seekor ikan 魚 (Yú)
jika kita syukuri dengan sungguh sungguh, maka itu akan menjadi suatu kelimpahan berkah 餘 (yú)


Dengan tinggi 21 cm
Dalam kondisi utuh, hanya porcelen bagian mata ada yang hilang
(dapat diperbaiki)


terbuat dari kayu (jenisnya tidak tahu)
tapi patung ini pada masanya diinport langsung dari China
dibuat dengan detail yang indah dan hidup
sebuah karya yang indah dan sarat dengan filosofi kehidupan



Selasa, 02 Oktober 2018

KRISTAL TEMPAT BUAH


Kristal dengan kilauannya yang indah dan tampilannya yang mewah



Pada era kolonial, kristal kristal yang indah ini diinport langsung dari eropa


Dan hanya orang orang kaya atau kaum bangsawan yang menggunakannya


Tempat buah
Dengan diameter 20 cm
Terbuat dari kristal vacetan, tampil elegan dengan kilauannya



Ditopang kaki terbuat dari kuningan
Dengan motif lekukan khas art Nouveau
Salah satu aliran yang populer di akhir  th 1800 an hingga kisaran th 1930


Tinggi keseluruhan dengan kaki 14 cm
Tempat buah ini tampil cantik melengkapi koleksi kristal anda

Rp 750.000 ,-




Senin, 01 Oktober 2018

TIGA DEWA KEBERUNTUNGAN 三神運氣 (Besar)

Fu Lu Shou  福禄壽  mengacu pada konsep Keberuntungan (Fu/ 福) , Kesejahteraan (Lu/ 禄), dan Panjang Umur (Shou/ 壽). Istilah ini umum digunakan dalam budaya Cina untuk menunjukkan tiga unsur kehidupan yang baik. 


Patung ketiga dewa ini dapat ditemukan hampir di setiap rumah Cina dan banyak toko-toko milik masyarakat Cina di altar kecil dengan segelas air, sebuah persembahan menguntungkan seperti jeruk , terutama selama Tahun Baru Cina. Secara tradisional,susunan mereka adalah dari  kanan ke kiri (sehingga Fu 福  ada di sebelah kanan, Lu 禄 di tengah, dan Shou 壽 di paling kiri).

Fu kung kung (福) mengacu pada planet Jupiter . Dalam astrologi tradisional, planet Jupiter diyakini sebagai bintang keberuntungan.


Menurut legenda Tao, Dewa Fu 福 dikaitkan dengan Yang Cheng 阳城, seorang gubernur  Daozhou 道州. Yang Cheng mempertaruhkan hidupnya dengan menulis peringatan kepada kaisar untuk menyelamatkan bangsa dari penderitaan.


Setelah kematiannya, orang-orang membangun sebuah kuil untuk mengenang dia, dan dari waktu ke waktu ia dianggap sebagai personifikasi dari keberuntungan 福.


Dewa Fu 福  biasanya digambarkan dalam pakaian sarjana, memegang sebuah gulungan kitab, yang kadang-kadang tertulis karakter 福如東海/Fu ru dong hai (Berkelimpahan bagai laut timur) . atau dapat juga dilihat sedang menggendong anak, atau dikelilingi oleh anak-anak.


Lu Kung Kung ( 禄 ) adalah ζ Ursa Majoris , atau, dalam astronomi tradisional Cina, bintang keenam di cluster Wenchang

Dewa Lu 禄 diyakini sebagai Zhang Xian, yang hidup pada Dinasti Shu.

Kata lu 禄 secara khusus mengacu pada gaji seorang pejabat pemerintah. Dengan demikian, dewa Lu 禄 adalah dewa kemakmuran, pangkat dan pengaruh.


hiasan topi aslinya hilang dan diganti dengan kayu tapi tidak mengurangi keindahannya


Dewa Lu 禄 juga disembah secara terpisah dari dua lainnya sebagai dewa yang menolong seseorang dalam Ujian kerajaan, keberhasilan dalam birokrasi kerajaan. Dewa Lu 禄 biasanya digambarkan memakai pakaian kebesaran pejabat kekaisaran China
dewa Lu 禄 memegang gulungan kitab bertuliskan 恭喜發財/gong xi fa cai (bersuka cita menerima kemakmuran) atau memegang ruyi

Shou kung kung (壽) adalah α Carinae ( Canopus ), bintang Kutub Selatan dalam astronomi Cina, dan diyakini mengendalikan masa hidup dari manusia.


Menurut legenda, ia dikandung ibunya selama sepuluh tahun, dan sudah tua saat dilahirkan.

+

Dia cirikan dengan dahinya yang menonjol / jenong dan membawa buah persik / thao sebagai sebagai simbol keabadian . 


terdapat sedikit cacat pada tangan yang memegang tongkat, hal ini mungkin karena tongkat tersebut memang bisa dilepas jadi kurang hati hati saat memasangkan atau melepasnya
tapi tidak begitu terlihat


Dewa Panjang Umur biasanya ditampilkan tersenyum dan ramah, dan dia kadang-kadang dapat membawa labu diisi dengan Ramuan Kehidupan.
Dewa panjang umur memegang buah persik dan pada tongkatnya terikat gulungan kitab bertuliskan 壽比南山/ shou bi nan shan (panjang umur laksana gunung selatan)

Patung tiga dewa keberuntungan dengan tinggi 60 cm, buatan era jaman awal republik Tiongkok
ada beberapa kekurangan karena usia tapi tidak mengurangi keindahannya.
cukup jarang didapatkan patung dengan dimensi yang cukup besar, mengingat transportasi di masa itu

Tiga dewa keberuntungan merupakan salah satu intisari filsafat kehidupan masyarakat Cina,
dimana dalam kehidupan ini manusia akan berbahagia jika memiliki 福 (keberuntungan), 禄 (Pangkat/Harga diri) dan 壽 (Panjang usia) 
suatu makna yang indah dalam sebuah karya seni

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...