Sabtu, 20 Juni 2015

HAPPY DUAN WU JIE 端午節

Duan 端 adalah singkatan dari Kai Duan 開端 yang bermakna awal Chu 初, orang zaman dulu menyebut tanggal 1 sebagai Chu Yi  初一, maka tanggal 5 sebagai sinonimnya: Duan Wu  端五. Orang kuno juga biasa menyebut 5 / Wu sebagai siang hari Wu Ri  午日, maka dari itu bulan 5 tanggal 5 juga dinamakan Duan Wu  端午


dikenal dengan sebutan festival Peh Cun (pachuan 扒船) di kalangan Tionghoa-Indonesia, adalah salah satu festival penting dalam kebudayaan dan sejarah Cina. Peh Cun adalah dialek Hokkian untuk kata : (mendayung perahu). Walaupun perlombaan perahu naga bukan lagi praktik umum di kalangan Tionghoa-Indonesia, namun istilah Peh Cun tetap digunakan untuk menyebut festival ini. Festival ini dirayakan setiap tahunnya pada tanggal 5 bulan 5 penanggalan Imlek dan telah berumur lebih 2300 tahun dihitung dari masa Dinasti Zhou. Perayaan festival ini yang biasa kita ketahui adalah makan bakcang (肉粽/rouzong) dan perlombaan dayung perahu naga. Karena dirayakan secara luas di seluruh Cina, maka dalam bentuk kegiatan dalam perayaannya juga berbeda di satu daerah dengan daerah lainnya. Namun persamaannya masih lebih besar daripada perbedaannya dalam perayaan tersebut.


Mengenang Qu Yuan

Alkisah, Qu Yuan 屈原 (339 SM - 277 SM) seorang menteri negara Chu 楚 di Zaman Negara-negara Berperang. Ia adalah seorang pejabat, banyak memberikan ide untuk memajukan negara Chu, bersatu dengan negara Qi (齊) untuk memerangi negara Qin (秦). Namun sayang, ia dikritik oleh keluarga raja yang tidak senang padanya yang berakhir pada pengusirannya dari ibu kota,sedih karena kecemasannya akan masa depan negara Chu, beliau kemudian bunuh diri dengan melompat ke sungai Miluo
 汨羅江. Ini tercatat dalam buku sejarah Shi Ji. Menurut legenda, ia melompat ke sungai pada tanggal 5 bulan 5.


Rakyat mencari jenazah sang menteri di sungai tersebut. Mereka lalu melemparkan nasi dan makanan lain ke dalam sungai dengan maksud agar ikan dan udang dalam sungai tersebut tidak mengganggu jenazah sang menteri. Kemudian untuk menghindari makanan tersebut dari naga dalam sungai tersebut maka mereka membungkusnya dengan daun-daunan yang kita kenal sebagai bakcang sekarang.


Para nelayan yang mencari-cari jenazah sang menteri dengan berperahu akhirnya menjadi cikal bakal dari perlombaan perahu naga setiap tahunnya.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...