Rabu, 17 Agustus 2016

Festival Hantu Festival Zhong Yuan Jie 中元節


Orang Tionghoa telah mengikuti kebiasaan tradisi Festival hantu ini sejak Dinasti Liang (502-557 AD) dan tradisi ini terus berkembang sampai ke masa kini.  

Dalam tradisi Cina, Festival Zhong Yuan Jie (中元节) atau Festival Hantu Lapar atau Yu Lan Pen festival disebut juga sebagai, "Festival Pertengahan Tahun," dirayakan pada tanggal 15 bulan 7 penanggalan imlek sehingga disebut juga qi yue pan 七月半, atau  di Indonesia dikenal sebagai sembahyang Cioko (Sembahyang rebutan).
yang tahun ini jatuh tepatnya pada tanggal 17 Agustus 2016


Perayaan ini banyak dirayakan oleh orang-orang Tionghoa di banyak negara. Oleh karena dua festival sangat mirip, maka Zhongyuan Festival ( 中元節) dan Upacara Ullambana ( 盂蘭盆節) versi agama Buddha Mahayana sering diadakan dalam waktu yang bersamaan.

Dalam tradisi Cina, hari ke-15 bulan lunar ketujuh disebut,"Ghost Day," dan seluruh bulan ketujuh pada umumnya dianggap sebagai bulan hantu ( Ghost Month / 鬼月), karena menurut sebuah kepercayaan bahwa dalam kurun waktu 1 bulan ini, Pintu Gerbang Neraka akan dibuka bebas sehingga para hantu dan roh, termasuk dari para leluhur, akan keluar dari alam yang lebih rendah untuk mengunjungi bumi selama sebulan.


Hal ini berbeda dengan kedua Festival Qingming (di musim semi) dan Chung Yeung Festival (di musim gugur), dimana keturunan keluarganya yang masih hidup memberi penghormatan kepada leluhur mereka. Pada bulan Hantu ini, almarhum diyakini keluar untuk mengunjungi orang yang masih hidup.

Selama bulan 7 yang disebut juga sebagai bulan hantu adalah waktu yang buruk untuk melakukan aktivitas juga yang paling berbahaya sepanjang tahun, karena banyak roh jahat yang keluar untuk menangkap jiwa, karena dipercaya bahwa peristiwa-peristiwa baik dan menggembirakan yang dilaksanakan di bulan “hantu” akan mendatangkan kesialan.

Sehingga selama bulan tujuh ini banyak orang yang menghindari seperti, bepergian, mengadakan pesta-pesta seperti perkawinan ataupun pindah rumah, memulai bisnis baru, menghindari berenang karena banyak roh air yang dapat mencoba untuk menenggelamkan Anda.


 Pada hari pertama bulan tujuh, biasanya nenek moyang dihormati dengan persembahan makanan, dupa, dan uang kertas yang dibakar sehingga roh dapat menggunakannya.

Persembahan untuk roh yang tanpa keluarga harus dibuat, sehingga mereka tidak akan membahayakan kita. Persembahan ini biasanya dilakukan di altar darurat yang didirikan di trotoar di luar rumah.

Kegiatan selama bulan ini akan mencakup mempersiapkan persembahan makanan ritual, membakar dupa dan membakar kertas sembahyang, barang-barang material seperti pakaian, emas dan barang-barang halus lainnya yang terbuat dari kertas untuk mengunjungi roh-roh para leluhur. 


Makanan yang rumit akan diberikan dengan menyediakan kursi kosong untuk masing-masing almarhum dalam keluarga untuk memperlakukan almarhum seolah-olah mereka masih hidup. 
Pada malam hari, dupa akan dibakar di depan pintu setiap rumah tangga. Semakin banyak dupa, semakin baik, jumlah dupa akan menunjukkan tingkat kemakmuran keluarga.  


Di beberapa tempat pada hari festival, keluarga yang hidup akan mengapungkan lentera di sungai untuk mengingat mereka yang telah meninggal. Menurut tradisi Cina, lentera digunakan untuk mengarahkan hantu atau para roh.   

Saat festival, semua toko ditutup untuk memberikan jalan kepada para roh agar mereka bisa menemukan jalan mereka kembali ketika lentera keluar. Di tengah jalan, altar dupa diatur setiap 100 langkah dengan mempersembahkan buah-buahan segar. biasanya para biarawan akan melantunkan lagu-lagu yang hanya bisa dimengerti oleh para roh. Ritual ini disebut shi ge'r, yang berarti menyanyikan lagu hantu.
Biasanya orang-orang akan menggunakan papan dan kertas warna-warni untuk membuat segala macam lentera, dengan lilin yang menyala di tengahnya. Para pengusaha biasanya sering bekerja sama untuk membangun sebuah perahu kertas besar, yang disebut Da Fa Boat, untuk mengangkut semua hantu ke tempat ideal mereka.


Saat malam tiba, orang akan menempatkan lentera dan perahu di sungai untuk melihat apakah perahu dan lentera itu akan mengapung atau tidak karena hal itu akan memberitahu mereka tentang nasib kerabat mereka yang telah meninggal.

Jika lentera atau perahu terapung di sungai, maka orang berpikir bahwa semangat roh tertangkap. Jika tenggelam, maka rohnya berarti disimpan, jika itu mengapung jauh atau ke pantai lain, maka rohnya akan menjadi makhluk abadi. 


Kebiasaan atau tradisi lainnya yang khas serta mengandung makna filsafat serta membedakan dengan tradisi lentera pada saat YuanXiao atau CapGo me adalah adanya Fang He Deng 放河灯 yaitu tradisi melepas lentera terapung di sungai yang mengalir sebagai simbolisme bahwa roh tersebut diberi sinar terang untuk menemukan jalannya menuju sang Asal yg disimbolkan dengan samudera (semua sungai menuju ke lautan).

Prinsip pelepasan lentera ini berkaitan dengan prinsip YIN palsu ( maksudnya roh yang gentayangan ) melalui YANG ( disini adalah dunia manusia ) kemudian kembali ke YIN asli ( alam kematian sesungguhnya ). Karena filsafat itulah maka tradisi FULI atau ZhaoHun atau juga yang kita sebut ChaoDu harus melalui proses setan-setan atau roh-roh gentayangan dilepas melalui alam manusia atau alam YANG agar bisa kembali ke alam YIN.

Pada tradisi Capgome yang mana bersifat merayakan perayaan bersifat Yang atau positif, maka lentera digantung. Sedangkan pada perayaan ZhongYuan atau GuiJie itu bersifat negatif, maka lentera dilepas di sungai atau danau. 

dikutip dari : Kebajikan ( De 德 ) 

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...