Selasa, 07 Maret 2017

PASREAN LORO BLONYO


Dalam mitologi Jawa Nyi Pohaci atau Dewi Sri adalah putri Bethara Antaboga atau Dewa Ular. Dewi Sri merupakan gambaran seorang gadis yang cantik luar biasa. Seorang putri yang baik hati, lemah lembut, halus tutur kata, luhur budi bahasa, memikat semua insan. Setiap mata yang memandangnya, dewa maupun manusia, segera jatuh hati pada sang dewi.


Dewi Sri selalu digambarkan sebagai gadis muda yang cantik, ramping tapi bertubuh sintal dan berisi, dengan wajah khas kecantikan alami gadis asli Nusantara. Mewujudkan perempuan di usia puncak kecantikan, kewanitaan, dan kesuburannya. Kebudayaan adiluhung Jawa dengan selera estetika tinggi menggambarkan Dewi Sri seperti penggambaran dewi dan putri ningrat dalam pewayangan. Wajah putih bersih dengan mata tipis menatap ke bawah dengan raut wajah yang anggun dan tenang. Serupa dengan penggambaran kecantikan dewi Sinta dari kisah Ramayana.


Pasangannya adalah Raden Sedhana juga digambarkan sebagai sosok laki-laki gagah dengan tampang rupawan seperti Rama. Patung Loro-Blonyo menggambarkan sepasang lelaki dan perempuan, juga diibaratkan sebagai pasangan Dewi Sri dan Raden Sedhana.


Masyarakat tradisional Jawa, terutama penghayat ajaran Kejawen, memiliki tempat khusus di tengah rumah mereka untuk Dewi Sri yang disebut Pasrean atau Pasren yang maksudkan sebagai tempat Dewi Sri, agar mendapatkan kesuburan dan kemakmuran. Tempat khusus ini dihiasi patung Loro-Blonyo, kadang-kadang lengkap dengan peralatan pertanian seperti ani-ani, arit kecil dan sejumput padi. Sering pula diberi sesajen kecil untuk persembahan bagi Dewi Sri.


 Patung Loro-Blonyo untuk mengartikulasikan pemahaman masyarakat Jawa akan filosofi Dewi Sri dan Sedhana, atau Kamaratih dan Kamajaya, semuanya merupakan lambang kemakmuran dan kebahagiaan rumah tangga, serta kerukunan hubungan suami-istri.


Patung Loro-Blonyo juga dapat menggambarkan konsep spiritual Jawa dengan apa yang disebut falsafah dwitunggal atau roroning atunggil seperti diungkapkan dalam serat Wedatama karya KGPAA Sri Mangkunegoro IV, terdapat pada pupuh pangkur podo 12 yang menggambarkan bagaimana seseorang dapat mencapai asas panunggalan, yakni antara manusia dengan Tuhan atau manunggaling kawula kalawan Gusti. 


alam konsep kepemimpinan Jawa juga dikenal falsafah panunggalan, atau asas manunggaling kawula (rakyat) dengan gusti (pemimpin). Antara rakyat dengan pemimpin haruslah bersatu padu, sinergis dan harmonis agar supaya dapat menciptakan kemakmuran bersama. Masyarakat dan penguasa sesungguhnya adalah pasangan. Jika konsep ini dapat dipahami dan diimplementasikan dalam kehidupan sehati-hari, maka bukanlah hal sulit untuk menciptakan suatu negeri yang adil makmur gemah ripah loh jinawi.


Simbol Dewi Sri-Raden Sedhana yang tercermin dalam patung simbolik Loro-Blonyo adalah merupakan salah satu kelengkapan ritual kesuburan di senthong tengah dalam pandangan budaya Jawa yang terkait dengan kosmologi masyarakat pendukungnya.  


Dewi Sri dan Raden Sedana dipengaruhi kosmologi Jawa sebagai bentuk pemahaman asal-usul manusia yang harus dihormati sebagai leluhur atau nenek moyang bangsa Jawa, dan sebagai pemahaman pentingnya hubungan harmonis antara manusia dengan lingkungan alamnya.  Spiritual Jawa memahami bahwa kesuburan merupakan bagian dari sistem kehidupan yang berasal dari mekanisme serba berpasangan yang kemudian mendatangkan dampak kemakmuran dan kesejahteraan hidup. 


patung Loro-Blonyo dalam kepercayaan Jawa sebagai kelengkapan ritual yang diletakkan di sentong (ruang) tengah pada dalem dalam konteks rumah tradisional Joglo. Singkat kata, patung Loro-Blonyo merupakan rangkuman dari suatu makna yang luas dan mendalam bagaimana masyarakat agraris memahami kehidupan ini. Ini adalah ilmu atau kosmologi masyarakat Jawa, Sunda, dan Bali maupun masyarakat di berbagai belahan bumi dalam memaknai kehidupan secara arif dan bijaksana. Masyarakat begitu mengagungkan atas segala yang diberikan oleh alam semesta untuk kehidupan ini. Loro-Blonyo merefleksikan suatu masyarakat yang begitu memahami pentingnya menjaga tata keseimbangan kosmos.


Simbolisasi Dewi Sri dan Raden Sedhana dalam hubungannya dengan ritual kesuburan bagi masyarakat Jawa, mempunyai makna kesadaran kosmologis. Dewi Sri dihubungkan dengan ular sawah sedangkan Raden Sadhana dengan burung sriti (walet). 


 Antara ular sawah dikaitkan dengan sang dewi dan oleh petani cenderung dihormati. Antara Dewi Sri, ular sawah, dan burung sriti dapat dilihat adanya pola hubungan yang saling menguntungkan, terutama terhadap petani.


Kearifan lokal dan kesadaran ekologi purba memahami bahwa ular sawah memangsa tikus yang menjadi hama tanaman padi. Burung sriti memakan serangga yang menjadi hama padi juga. Berbeda dengan burung emprit kaji (warna bulunya merah, dan putih di bagian kepala) yang justru menjadi hama karena memakan padi. 


Dan Dewi Sri yang memberikan pupuk untuk tanaman padi. Di banyak negara Asia lain seperti di India dan Thailand, berbagai jenis ular terutama ular kobra pun dihubungkan dengan mitos kesuburan sebagai pelindung sawah.


Dewi Sri diperkirakan sebagai sisa kepercayaan masyarakat Indonesia pada zaman  kuno yang mampu bertahan menghadapi perubahan sosial dan agama. Pemujaan Dewi Sri diperkirakan berasal dari pemujaan Bhagawati Tara Dewi oleh para petani. Dalam salah satu wujudnya, Bhagawati Tara bermanifestasi sebagai Vasundhari atau Vasundharini. Ia digambarkan bertubuh kuning sambil memegang setangkai padi yang menguning. Jika kita mengulas buku-buku lawas atau dokumen sejarah, pemujaan kepada Bhagawati Tara Dewi berlangsung sebelum Kerajaan Majapahit, ditandai dengan dibangunnya Candi Kalasan oleh Rakai Panangkaran dari Wangsa Sailendra. Candi tersebut diperkirakan dibangun pada tahun 778 Masehi. Dalam tradisi masyarakat Konghucu juga memiliki filosofi yang sama, seperti dalam Kelenteng didapati tempat pemujaan untuk Dewi Sri.


Pasrean untuk meleakan patung loro blonyo dengan dimensi 60 cm x 30 cm tinggi 73 cm
termasuk amat langka, karena pada umumnya pasrean dibuat dengan ukuran yang besar.
salah satu bentuk tradisi kearifan lokal yang sarat akan makna dan filosofi

layak menjadi koleksi kebanggaan anda

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...